Feb112008
Pantai Carita, Tukang Bubur dan Refleksi Mimpi
0
Singkat cerita, setelah pulang naik haji, sifat mulia Pak Bur tetap dipeliharanya, beliau tetap mau berbagi dengan sesama. ———————– Seringkali kita mengikuti berbagai pelatihan motivasi diri, membaca berbagai buku tentang pengembangan diri, atau bahkan mengikuti seminar dengan biaya jutaan rupiah, pembahasan tentang mimpi selalu menjadi bagian penting. “miliki mimpi, karena mimpi adalah visi masa depan”
“bermimpilah setinggi langit, raihlah dengan segenap tenaga, dapatkan kesuksesan”
“tanpa mimpi, berarti anda tanpa tujuan”
kira-kira mungkin seperti itulah jargon yang ditekankan Mungkin kita sangat setuju, kata mimpi, visi, misi dan tujuan dalam kehidupan seseorang memegang peranan yang sangat penting. seseorang tanpa visi hidup, ibarat kapal tanpa nakhoda, tak tau harus berlayar kemana…
seringkali ketika kita mengikuti pelatihan tentang pengembangan diri, kita dituntun untuk menulis tentang mimpi kita..Sang trainer menyuruh kita untuk menuliskan mimpi kita Maka kita pun menulis mimpi kita…
satu mimpi, dua mimpi, tiga mimpi…sepuluh mimpi… hayo tulis terus mimpi anda, mimpi kan gratis, nggak bayar, begitu kata trainernya… dua puluh mimpi, tiga puluh.. empat puluh… lima puluh….
wahhh… banyak juga mimpi kita… kebebasan financial, punya rumah mewah, punya mobil banyak, dapat liburan keliling dunia, punya istri cantik atau suami ganteng, jadi direktur perusahaan dan sebagainya dan sebagainya… begitu kita sudah selesa menulis kan mimpi kita,, sang trainer pun dengan semangat nya berteriak..
“Bagus.. Luar biasa… Mimpi hebat, kehidupan hebat.. Anda pasti bisa mencapainya.. Anda pasti Sukses..” teriaknya dengan penuh semangat…
Luar biasa bukan? Apakah ada yang salah?
tidak-tidak ada yang salah….memang seperti itulah gunanya pelatihan diri.. Hanya saja, terkadang daftar mimpi kita hanya berwujud daftar mimpi…mengapa demikian?
ketika kita kembali melihat daftar mimpi keesokan harinya.. dan kita bandingkan dengan keadaan kita sekaran, kita refleksikan mimpi kita dengan kondisi kita, wahh wah wahhh.. mimpi yang mana ni yang mau diwujudkan.. mimpi pertama, hmm.. kayaknya belum bisa ni.. mimpi kedua, masih lama prosesnya, mimpi ketiga, susah juga ya… mimpi keempat, banyak hambatan .. dan seterusnya dan seterusnya…
disadari atau tidak, ketika kita melihat kembali daftar mimpi kita, banyak insan yang justru menjadi minder.. merasa mimpinya terlalu tinggi.. atau merasa mimpinya bisa dicapai dilain waktu,.. atau merasa mimpinya masih lama sekali akan terwujud… Belum lagi jika bertemu dengan environment kita..
contohnya saja seperti cerita Pak Bur diatas, punya mimpi mau Naik haji, begitu temannya tau, Pak Bur langsung disemprot, Jangan Mimpi Pak.. tukang bubur kok mau naik haji.. ampe kapan ngumpulin duitnya… habislah Pak Bur dikikis nya… Ya.. begitulah lingkungan kita, punya mimpi tinggi, kayaknya seluruh dunia berlomba-lomba menggagalkan mimpi kita.. Punya cita-cita agak aneh sedikit, ribuan orang berusaha “meluruskan kita”..
Hebatnya, kadang-kadang tanpa sadar kita telah dipengaruhi oleh lingkungan kita…kembali ke jalur realistis katanya.. Makanya tak heran banyak orang yang telah ikut pelatihan pengembangan diri, setelah dua tiga bulan, dia ikut kembali, dua tiga bulan berikutnya dia ikut kembali.. di charge ulang,.. begitu katanya , seperti baterai handphone saja..
sayangnya,, semangatnya memang dicharge ulang, tapi daftar mimpinya juga dicharge ulang, yaitu mulai lagi dari nol… Lantas, salahkah memiliki mimpi?
Seberapa tinggihkah mimpi itu kita buat?
Atau Mimpi yang bagaimanakah yang cocok dengan diri kita? —————
Kembali kepada cerita Pak Bur.. Mimpi Pak Bur : Naik Haji
Tindakan 1 : mendaftar di bank
Tindakan 2 : berusaha seperti biasa yaitu dengan optimal
TIndakan 3 : membayar tabungan walau 5000 rupiah sehari
Tindakan 4 : menceritakan kepada teman2 dan konsumennya
Tindakan 5 : berdoa dan minta doa dari teman2 dan konsumennya
Tindakan 6 : begitu mendapat hadiah dari bank dan bisa naik
haji..mengajak 5 orang naik haji bersamanya
TIndakan 7 : sepulang naik haji, tetap mulia dengan mau berbagi. pada cerita diatas Pak Bur hanya punya satu mimpi sederhana..turunannya ada tujuh tindakan.. Lalu bagaimana jika kita punya lima puluh mimpi.. ???
berapa banyak turunan tindakannya..??
cukupkah waktu dalam 24 jam?
cukupkah tenaga kita?
atau masih optimiskah kita? Mungkin anda pernah merasakan hal yang sama dengan saya.. banyak sekali yang mau saya lakukan, menyelesaikan pekerjaan, mengurus usaha sampingan, membaca buku, mengikuti seminar, menulis, dan sebagainya dan sebgainya,,padahal saya hanya punya waktu 24 jam, lagi dipotong waktu untuk istirahat. Huff.. rasanya banyak sekali pekerjaan kita, rasanya banyak sekali beban hidup kita untuk mencapai mimpi.. semakin lama semakin berat beban hidup..
semakin tinggi mimpi yang kita tulis, semakin berat pula beban hidup kita
semakin banyak mimpi yang kita tulis, semakin banyak pula pekerjaan yang harus kita lakukan… Maka tak heran jika daftar mimpi hanya selesai di daftar mimpi…
karena begitu menyadari tumpukan beban hidup untuk mencapai mimpi tersebut.. banyak dari kita yang perlahan tapi pasti kembali kepada realitas, begitu pembenaran yang biasa diucapkan… Hal penting yang biasa dilupakan dari pembahasan mimpi adalah :
dua kata yaitu Trigger dan Value trigger adalah pelecut api mimpi.. biasanya dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan Mengapa mimpi ini harus saya capai?…Mengapa saya harus memiliki mimpi ini, atau Inikah mimpi yang cocok untuk saya?
trigger yang kuat selalu berjalan seiringan dengan value (nilai-nilai). Value adalah keadaan yang kita yakini dan kita junjung tinggi kualitasnya dalam contoh Pak Bur, mimpinya adalah naik haji, Triggernya adalah menjalankan perintah agama, value nya adalah nilai2 yang terkandung dalam ajaran islam..
Trigger adalah api mimpi, value adalah baranya..
terkadang kita hanya menulis mimpi tanpa ada trigger yang jelas, tanpa ada relevansi dengan nilai2 yang kita yakini, maka begitu ada setetes air jatuh dari angkasa, api mimpi kita telah padam…
nilai-nilai memberikan fondasi yang kuat bagi insan manusia, nilai-nilai memberikan kekokohan dalam menjalani kehidupan.. nilai nilai menjadi bekal dan kompas dalam lautan kehidupan…
Maka, ditengah deburan ombak saya mulai merenungkan kembali apa trigger yang dulu saya tetapkan
dan Value apa yang dulu saya yakini.. mungkin dalam perjalannya saya melupakan kedua unsur ini
salam
di tengah perenungan diri






