Archive for February 2008

Feb112008

Pantai Carita, Tukang Bubur dan Refleksi Mimpi

Sabtu malam minggu yang lalu saya dan teman-teman berangkat berlibur ke Daerah Pantai Carita. Karena kami berangkat malam hari, jam 23.00 setiba di penginapan, saya memutuskan langsung istirahat megingat saya telah menghabiskan hari sabtu saya dengan mengurusi seminar yang diadakan oleh perusahaan. Beberapa teman saya ada yang tetap mengobrol hingga larut malam. Namun entah kenapa hati saya ingin cepat2 tidur saja, tanpa ada mood untuk berbicara panjang lebar, tidak biasanya memang..

Saya baru sadar keesokan paginya saya adalah orang yang pertama kali bangun. Sebelum matahari terbit saya tergerak untuk berjalan-jalan di pinggir pantai. Sendirian karena tidak tega membangunkan teman-teman. Maunya sih melihat sunrise, namun apa daya, karena langit mendung. Saya hanya duduk di pasir sambil sesekali merasakan dinginnya air laut di kaki pada pagi hari.

Sambil mendengarkan suara ombak, Entah kenapa pikiran saya jadi menerawang ke beberapa hal, terutama terkait dengan mimpi-mimpi saya yang telah saya tetapkan. Ada rasa getir dalam hati tatkala menyadari masih jauh nya diri ini dari garis finish mimpi yang telah di tetapkan. Ada perasaan sedih mengingat jalan yang saya pilih sungguh terjal dan mendaki. Terlintas benak penyesalan seandainya saya tidak memilih jalan ini, mungkin kondisi nya akan jauh berbeda.

Namun pikiran pikiran negatif tersebut dengan sekuat tenaga saya singkirkan.. pikiran saya justru teringat pada Sinetron yang dulu amat saya gemari, Judulnya Tukang Bubur Naik Haji.. Sebuah sinetron komedi yang Tokoh utama diperankan dengan apik oleh Mat Solar. Mungkin beberapa dari Anda mengetahuinya. Satu hal yang menarik dari sinetron adalah selalu mengingatkan saya akan prinsip prinsip dalam memegang mimpi, meraih mimpi dan mewujudkan mimpi.

Dalam sinetron tersebut, Mat solar memerankan tukang bubur ayam yang memiliki impian untuk pergi ke Mekkah Arab saudi, Naik Haji sesuai dengan tuntunan agamanya, agama islam. Walaupun profesinya hanya lah berjualan bubur ayam keliling, tukang bubur ayam ini–sebut saja Pak Bur–(saya tidak ingat nama perannya) tetap yakin bahwa suatu hari impian nya menjadi kenyataan, Pak Bur yakin asalkan ia berusaha dengan keras, Yang Kuasa akan memberinya jalan untuk menunaikan ibadah haji.

Tindakan pertama pak bur adalah membuka jenis tabungan ongkos naik haji di salah satu bank swasta. Setiap hari, setelah tabungannya aktif, pak bur menyisihkan sisa untung dari jualan bubur ayam nya untuk ditabung, walaupun jumlahnya hanya lima ribu rupiah. lima ribu demi lima ribu dia masukkan setiap hari ke tabungan ongkos naik hajinya.Ketika ditanya teman2 dan langganan nya, kok sering ke bank Pak Bur? ia menjawab dengan semangat, iya, nabung untuk ongkos naik haji, begitu katanya, Terang saja yang mendengar pada ketawa.

Apakah mungkin seorang tukang bubur ayam keliling bisa mengumpulkan uang untuk ongkos naik haji? kalaupun mampu, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan uangnya? jangan-jangan sudah keduluan meninggal.. Begitulah persepsi masyarakat Pak Bur, mentertawakan, bahkan tak sedikir orang yang berkata, “jangan mimpi Pak Bur, kerja cuma jualan bubur ayam keliling kok mau naik haji,

Namun Pak Bur tak pernah patah semangat, setiap hari, ketika ia berjualan bubur ayam, Pak Bur sering bercerita kepada pelanggannya tentang keinginannya naik haji, tak henti2nya ia menceritakan mimpinya pergi ke mekkah. Tak henti2nya pula ia berdoa kepada Yang Kuasa agar diberikan rejeki untuk Naik Haji.

Suatu ketika, ternyata tanpa diduga, Yang kuasa memang maha pemurah, Pak Bur memenangkan Undian dari bank tempat ia menabung, dalam jumlah yang cukup besar. Membuat ia menjadi kaya mendadak. Impiannya untuk naik haji menjadi kenyataan. Sungguh Pak Bur bersyukur pada yang kuasa, sebagai wujud syukurya, ia pun mengajak lima orang teman dekatnya untuk naik haji bersama dirinya.
Singkat cerita, setelah pulang naik haji, sifat mulia Pak Bur tetap dipeliharanya, beliau tetap mau berbagi dengan sesama.

———————–

Seringkali kita mengikuti berbagai pelatihan motivasi diri, membaca berbagai buku tentang pengembangan diri, atau bahkan mengikuti seminar dengan biaya jutaan rupiah, pembahasan tentang mimpi selalu menjadi bagian penting.

“miliki mimpi, karena mimpi adalah visi masa depan”
“bermimpilah setinggi langit, raihlah dengan segenap tenaga, dapatkan kesuksesan”
“tanpa mimpi, berarti anda tanpa tujuan”
kira-kira mungkin seperti itulah jargon yang ditekankan

Mungkin kita sangat setuju, kata mimpi, visi, misi dan tujuan dalam kehidupan seseorang memegang peranan yang sangat penting. seseorang tanpa visi hidup, ibarat kapal tanpa nakhoda, tak tau harus berlayar kemana…
seringkali ketika kita mengikuti pelatihan tentang pengembangan diri, kita dituntun untuk menulis tentang mimpi kita..Sang trainer menyuruh kita untuk menuliskan mimpi kita

Maka kita pun menulis mimpi kita…
satu mimpi, dua mimpi, tiga mimpi…sepuluh mimpi… hayo tulis terus mimpi anda, mimpi kan gratis, nggak bayar, begitu kata trainernya… dua puluh mimpi, tiga puluh.. empat puluh… lima puluh….
wahhh… banyak juga mimpi kita… kebebasan financial, punya rumah mewah, punya mobil banyak, dapat liburan keliling dunia, punya istri cantik atau suami ganteng, jadi direktur perusahaan dan sebagainya dan sebagainya…

begitu kita sudah selesa menulis kan mimpi kita,, sang trainer pun dengan semangat nya berteriak..
“Bagus.. Luar biasa… Mimpi hebat, kehidupan hebat.. Anda pasti bisa mencapainya.. Anda pasti Sukses..” teriaknya dengan penuh semangat…
Luar biasa bukan? Apakah ada yang salah?
tidak-tidak ada yang salah….memang seperti itulah gunanya pelatihan diri..

Hanya saja, terkadang daftar mimpi kita hanya berwujud daftar mimpi…mengapa demikian?
ketika kita kembali melihat daftar mimpi keesokan harinya.. dan kita bandingkan dengan keadaan kita sekaran, kita refleksikan mimpi kita dengan kondisi kita, wahh wah wahhh.. mimpi yang mana ni yang mau diwujudkan.. mimpi pertama, hmm.. kayaknya belum bisa ni.. mimpi kedua, masih lama prosesnya, mimpi ketiga, susah juga ya… mimpi keempat, banyak hambatan .. dan seterusnya dan seterusnya…
disadari atau tidak, ketika kita melihat kembali daftar mimpi kita, banyak insan yang justru menjadi minder.. merasa mimpinya terlalu tinggi.. atau merasa mimpinya bisa dicapai dilain waktu,.. atau merasa mimpinya masih lama sekali akan terwujud…

Belum lagi jika bertemu dengan environment kita..
contohnya saja seperti cerita Pak Bur diatas, punya mimpi mau Naik haji, begitu temannya tau, Pak Bur langsung disemprot, Jangan Mimpi Pak.. tukang bubur kok mau naik haji.. ampe kapan ngumpulin duitnya… habislah Pak Bur dikikis nya… Ya.. begitulah lingkungan kita, punya mimpi tinggi, kayaknya seluruh dunia berlomba-lomba menggagalkan mimpi kita.. Punya cita-cita agak aneh sedikit, ribuan orang berusaha “meluruskan kita”..
Hebatnya, kadang-kadang tanpa sadar kita telah dipengaruhi oleh lingkungan kita…kembali ke jalur realistis katanya..

Makanya tak heran banyak orang yang telah ikut pelatihan pengembangan diri, setelah dua tiga bulan, dia ikut kembali, dua tiga bulan berikutnya dia ikut kembali.. di charge ulang,.. begitu katanya , seperti baterai handphone saja..
sayangnya,, semangatnya memang dicharge ulang, tapi daftar mimpinya juga dicharge ulang, yaitu mulai lagi dari nol…

Lantas, salahkah memiliki mimpi?
Seberapa tinggihkah mimpi itu kita buat?
Atau Mimpi yang bagaimanakah yang cocok dengan diri kita?

—————
Kembali kepada cerita Pak Bur..

Mimpi Pak Bur : Naik Haji
Tindakan 1 : mendaftar di bank
Tindakan 2 : berusaha seperti biasa yaitu dengan optimal
TIndakan 3 : membayar tabungan walau 5000 rupiah sehari
Tindakan 4 : menceritakan kepada teman2 dan konsumennya
Tindakan 5 : berdoa dan minta doa dari teman2 dan konsumennya
Tindakan 6 : begitu mendapat hadiah dari bank dan bisa naik
haji..mengajak 5 orang naik haji bersamanya
TIndakan 7 : sepulang naik haji, tetap mulia dengan mau berbagi.

pada cerita diatas Pak Bur hanya punya satu mimpi sederhana..turunannya ada tujuh tindakan..

Lalu bagaimana jika kita punya lima puluh mimpi.. ???
berapa banyak turunan tindakannya..??
cukupkah waktu dalam 24 jam?
cukupkah tenaga kita?
atau masih optimiskah kita?

Mungkin anda pernah merasakan hal yang sama dengan saya.. banyak sekali yang mau saya lakukan, menyelesaikan pekerjaan, mengurus usaha sampingan, membaca buku, mengikuti seminar, menulis, dan sebagainya dan sebgainya,,padahal saya hanya punya waktu 24 jam, lagi dipotong waktu untuk istirahat. Huff.. rasanya banyak sekali pekerjaan kita, rasanya banyak sekali beban hidup kita untuk mencapai mimpi..

semakin lama semakin berat beban hidup..
semakin tinggi mimpi yang kita tulis, semakin berat pula beban hidup kita
semakin banyak mimpi yang kita tulis, semakin banyak pula pekerjaan yang harus kita lakukan…

Maka tak heran jika daftar mimpi hanya selesai di daftar mimpi…
karena begitu menyadari tumpukan beban hidup untuk mencapai mimpi tersebut.. banyak dari kita yang perlahan tapi pasti kembali kepada realitas, begitu pembenaran yang biasa diucapkan…

Hal penting yang biasa dilupakan dari pembahasan mimpi adalah :
dua kata yaitu Trigger dan Value

trigger adalah pelecut api mimpi.. biasanya dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan Mengapa mimpi ini harus saya capai?…Mengapa saya harus memiliki mimpi ini, atau Inikah mimpi yang cocok untuk saya?
trigger yang kuat selalu berjalan seiringan dengan value (nilai-nilai). Value adalah keadaan yang kita yakini dan kita junjung tinggi kualitasnya

dalam contoh Pak Bur, mimpinya adalah naik haji, Triggernya adalah menjalankan perintah agama, value nya adalah nilai2 yang terkandung dalam ajaran islam..
Trigger adalah api mimpi, value adalah baranya..
terkadang kita hanya menulis mimpi tanpa ada trigger yang jelas, tanpa ada relevansi dengan nilai2 yang kita yakini, maka begitu ada setetes air jatuh dari angkasa, api mimpi kita telah padam…
nilai-nilai memberikan fondasi yang kuat bagi insan manusia, nilai-nilai memberikan kekokohan dalam menjalani kehidupan.. nilai nilai menjadi bekal dan kompas dalam lautan kehidupan…

Maka, ditengah deburan ombak saya mulai merenungkan kembali apa trigger yang dulu saya tetapkan
dan Value apa yang dulu saya yakini.. mungkin dalam perjalannya saya melupakan kedua unsur ini

salam
di tengah perenungan diri